Pada zaman dahulu, hiduplah seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Keduanya tinggal di sebuah rumah bersama dengan seekor anjing setia yang selalu menjaga ibu dan anak tersebut. Tak ada yang tahu bahwa Dayang Sumbi sebenarnya adalah seorang dewi dari khayangan, dan anjing bernama Tumang tersebut adalah suaminya. Dayang Sumbi dan Tumang dikutuk oleh dewa karena sebuah kesalahan. Mereka harus turun ke bumi dan tinggal sebagai seorang manusia dan seekor anjing. Keduanya menerima dan menjalani hukuman tersebut dengan lapang dada. Sangkuriang muda sangat gemar berburu. Saat berburu, ia selalu ditemani oleh Tumang. Mereka berdua sangat cekatan dalam memburu mangsa. Tumang mengejar rusa, bahi hutan atau kelinci hingga mereka tersudut, lalu Sangkuriang menombak hewan buruan tersebut. Hampir setiap selesai berburu, keduanya membawa banyak hewan untuk dimakan atau dijual. Pada suatu hari, Sangkuriang pergi berburu lagi dengan Tumang. Anak muda itu melihat seekor kijang, dan ingin memburunya. Ia memberi perintah pada Tumang untuk menyergap kijang tersebut lalu mengejarnya. Setelah mengendap-endap agar tak ketahuan, Tumang segera mengejar mangsanya Namun ternyata kijang itu berlari sangat cepat, jauh Iebih cepat daripada kijang lain yang pernah mereka buru. Sangkuriang yang ikut mengejar dari belakang terengah-engah kehabisan napas. Setelah beberapa lama, ia sampai di pinggir sungai dan melihat Tumang sedang mengendus-endus kebingungan. Advertisements "Tumang, di mana kijang itu? Apakah kau kehilangan jejaknya?" teriak Sangkuriang dengan nada kesal. Tumang hanya bisa menyalak. Kijang itu melesat bagai anak panah, dan anjing tersebut tak mampu mengejarnya. Air sungai membuat penciumannya melemah, ia tak dapat mengendus jejak kijang untuk mengetahui ke arah mana hewan itu berlari. Betapa marahnya Sangkuriang. ia sangat menginginkan kijang itu, dan mereka sudah berlari demikian jauh untuk mengejarnya. ''Kau ini bagaimana sih?” umpat Sangkuriang. "Bagaimana mungkin kau kehilangan jejak kijang itu. Dasar anjing bodoh!" Dengan marah, diambilnya sebuah batu dari pinggir sungai dan dilemparkannya ke arah Tumang. Batu tersebut tepat mengenai kepalanya dan membuatnya tersungkur. Sangkuriang terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Segera dipeluknya Tumang yang tak bergerak lagi. Kepala anjing tersebut penuh darah, matanya terpejam dan napasnya mulai tak terdengar. "Tumang... Tumang…. Maafkan aku!" jerit Sangkuriang dengan panik. “Aku tak bermaksud membuat kepalamu terluka. Tadi aku hanya kesal saja. Bangunlah Tumang, jangan mati." Advertisements Sayang sekali, darah di kepala Tumang begitu banyak hingga akhirnya anjing itu menghembuskan napas terakhirnya. Sangkuriang menangis sedih. Ia menyesali perbuatannya, namun nasi telah menjadi bubur. Anjing kesayangannya telah mati. Sangkuriang menangis cukup lama sebelum akhirnya ia menguburkan Tumang. Setelah selesai, ia berjalan pulang dengan lunglai. Hatinya sangat pilu. Sesampainya di rumah, ia menceritakan apa yang terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi yang terperanjat atas kematian Tumang langsung melampiaskan kemarahannya pada Sangkuriang. Ia mengambil sendok kayu yang biasa digunakan untuk menanak nasi, lalu dipukulkannya sendok itu ke kepala Sangkuriang dan mengenai dahinya. "Pergi kau, anak kurang ajar! Berani-beraninya kau membunuh Tumang yang begitu setia padamu!" "Tapi, Ibu.... "Pergi kau! Jangan pernah kembali lagi!" Dayang Sumbi mengusir anaknya dengan penuh kemurkaan. Sangkuriang pun meninggalkan rumah dengan dahi terluka dan hati yang pedih. Ia berjalan tak tentu arah, menuju ke mana saja kakinya melangkah. Berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Bertahun-tahun Sangkuriang berkelana dan dari perjalanan tersebut ia menimba banyak ilmu dari satu perguruan ke perguruan lain. Selain seorang pemuda yang cerdas, ia pun anak seorang dewi sehingga ia dengan mudah mendapatkan kesaktian dari berbagai perguruan. Semakin hari, kesaktiannya bertambah kuat dan Sangkuriang menggunakannya untuk membantu orang-orang yang kesulitan. Advertisements Hingga suatu hari, Sangkuriang sampai di sebuah desa. Sebenarnya desa itu adalah desa kelahirannya, namun Sangkuriang tak mengenali karena ada begitu banyak perubahan di sang, Selain itu, luka di kepalanya saat dipukul ibunya dulu serta rasa tertekannya akibat kematian Tumang dan pengusiran Dayang Sumbi membuatnya melupakan masa kecilnya. Ketika beristirahat sejenak di sebuah kedai minum, Sangkuriang melihat sosok seorang wanita. ia terpana akan kecantikannya dan berniat untuk menikahi wanita itu. Sangkuriang tak tahu bahwa wanita itu adalah Dayang Sumbi. Oleh karena Dayang Sumbi adalah keturunan dewa sehingga ia tak bisa menua. Wajahnya semuda gadis-gadis remaja, dan hal itulah yang membuat Sangkuriang tak mengenali ibunya sendiri. Dayang Sumbi pun awalnya tak mengetahui siapa Sangkuriang, sebab anaknya itu telah tumbuh menjadi pemuda gagah dan tampan. Ketika Sangkuriang mendekatinya, ia tak menaruh curiga sama sekali hingga ia melihat bekas luka di dahi pemuda itu. Seketika tahulah ia bahwa pemuda itu adalah Sangkuriang, anaknya. Dayang Sumbi menjadi sangat ketakutan, terutama karena Sangkuriang tak memercayai penjelasannya. Pemuda yang kasmaran itu bersikeras melamar Dayang Sumbi. Karena kehabisan akal, Dayang Sumbi pun mengajukan dua syarat. Pertama, Sangkuriang harus membendung sungai Citarum, dan syarat kedua, Sangkuriang harus membuat sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing. Dayang Sumbi mengira kedua syaratnya akan membuat Sangkuriang mundur. Ia tak tahu bahwa anaknya itu memiliki kesaktian. Dengan cepat, Sangkuriang menyanggupi permintaan tak masuk akal tersebut. Malam itu Sangkuriang melakukan tapa, mengumpulkan kesaktian dan mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan membendung sungai. Dayang Sumbi yang diam-diam mengintip pekerjaan tersebut merasa cemas. "Bagaimana jika Sangkuriang berhasil menyelesaikannya? Tak mungkin aku menikah dengan anakku sendiri." Dayang Sumbi pun memutar otak. Begitu pekerjaan Sangkuriang hampir selesai, Dayang Sumbi menggelar selendang sutra merah, lalu berdoa pada dewa di khayangan untuk membantunya. Selendang merah itu terbang ke arah Timur, dan menutup sebagian langit. Orang-orang mengira matahari sudah terbit di ufuk karena langit sudah memerah. Sangkuriang terkejut dan tak mengira pagi datang lebih cepat dari perkiraannya. Ia pun segera mengetahui bahwa hal tersebut adalah ulah Dayang Sumbi yang tak ingin menikah dengannya. Karena patah hati, Sangkuriang menjadi marah. Ia mengamuk, menjebol bendungan yang dibuatnya. Air bendungan menerjang dan mengakibatkan banjir badang. Penduduk desa ketakutan dan berlarian mencari tempat aman. Dongeng Rakyat Jawa Barat Legenda Tangkuban Perahu Dongeng Rakyat Jawa Barat Legenda Tangkuban Perahu Kemarahan Sangkuriang tak berhenti sampai di situ. Ia pun menendang sampan besar hingga terpental jauh. Kesaktiannya membuat sampan tersebut jatuh terbalik dan berubah menjadi sebuah gunung. Hingga saat ini, gunung yang bentuknya mirip sampan terbalik itu masih bisa dilihat, namanya adalah gunung Tangkuban Perahu. Pesan Moral dari Dongeng Rakyat Jawa Barat - Legenda Tangkuban Perahu adalah kita harus selalu menghormati dan menuruti apa kata orangtua, serta sayang kepada hewan peliharaan kita. Juga kita tidak boleh menuruti hawa nafsu sehingga mudah marah
Di jaman kuno, aya awéwé awéwé geulis anu ngaranna Dayang Sumbi. Anjeunna gaduh anak lalaki namina Sangkuriang. Kalayan duanana cicing di hiji bumi babarengan sareng anjing anu setia anu salawasna ngurus indung sareng murangkalih. Teu aya anu terang yén Dayang Sumbi saleresna Déwi Sawarga, sareng anjing anu namina Tumang nyaéta salakina. Dayang Sumbi sareng Tumang dikutuk ku déwa pikeun kasalahan. Aranjeunna kedah turun ka bumi sareng hirup salaku manusa sareng anjing. Kadua nampi sareng ngawula dina hukuman anggun. Sangkuriang anom pisan ngaburu pisan. Nalika moro, anjeunna sering dibarengan ku Tumang. Duanana kaléngan ngabantosan pisan pikeun moro. Tumang ngudag kancil, taktak leuweung atanapi kelenci dugi aranjeunna dirobih, teras Sangkuriang tumbak sato anu diburu. Ampir unggal waktos aranjeunna moro, aranjeunna nyangking sato kanggo tuang atanapi ngical. Hiji dinten, Sangkuriang angkat ka moro deui sareng Tumang. Eta nonoman ningali kijang, sareng hoyong moro. Anjeunna masihan pesenan ka Tumang pikeun nerangkeun kancil teras ngudag anjeunna. Sanggeus nyicingan nepi ka henteu katangkep, Tumang langsung ngudag mangsana Tapi katingalina kancil lumpat pisan gancang, langkung gancang tibatan kijang sanés anu diburu. Sangkuriang anu kaburu ti tukangeun pépédak.Saatos sababaraha waktos, anjeunna dugi ka pinggir walungan sareng ningali Tumang mengentel kabingungan. Iklan "Tumang, mana si kancil? Naha anjeun leungiteun jalurna?" Sangkuriang ambeu ngaganggu. Tumang ngan tiasa ngagogogan. Si kijang sped siga panah, sareng anjing moal ngudag éta. Cai walungan ngajadikeun bau na jadi lemah, anjeunna henteu tiasa nyayunkeun jalan raya kijang pikeun milari arah sato anu ngajalankeun. Kumaha ambek Sangkuriang. anjeunna bener-bener hoyong si kancil, sareng aranjeunna parantos ngajalankeun dugi ka ngudag anjeunna. "Naon anu anjeun lakukeun?" Saur Sangkuriang. "Kumaha anjeun panginten mungkin ngalacak kancil éta. Anjeun anjing bodo!" Gagah, anjeunna nyandak batu ti tepi walungan sareng dialungkeun di Tumang. Batu na pencét sirah na teras diketok. Sangkuriang reuwas ku naon anu kakara parantos dilakukeun. Langsung anjeunna ngarangkul Tumang anu henteu ngalih deui. Sirah anjing pinuh ku getih, panonna ditutup sareng napasna mimiti teu kabiruan. "Tumang ... Tumang ... Hapunten!" Sangkuriang ngajerit panik. "Kuring henteu hartosna menyakiti sirah anjeun. Abdi ngan ukur kesel. Bangun Tumang, moal maot. " Iklan Hanjakalna, aya pisan getih dina sirah Tumang yén anjing tungtungna ngambekan tukangna. Sangkuriang ngajerit sedih.Anjeunna kuciwa tindakan na, tapi sangu parantos janten bubur. Anjing karesepna urang téh maot. Sangkuriang ceurik cukup lila sateuacan anjeunna tungtungna ngubur Tumang. Nalika réngsé, anjeunna leumpang nyai limp. Haténa kacida sedih. Nalika anjeunna balik ka imah, anjeunna nyarioskeun naon anu jadi kajadian ka indungna. Dayang Sumbi anu terkejut ku pupusna Tumang langsung ngaleungitkeun amarahna di Sangkuriang. Anjeunna nyandak sendok kai anu dipaké pikeun masak sangu, teras nyéépkeun mastaka dina sirah Sangkuriang sareng taar kareta. "Jauh, anjeun brat! Kumaha wani anjeun maéhan Tumang anu satia pisan ka anjeun!" "Tapi, Ibu ..." Indit! Teu pernah uih deui! "Dayang Sumbi ngusir anakna tina murka. Sangkuriang ninggalkeun bumi anu dahi anu luka sareng haté anu nyeri. Anjeunna leumpang salamina, ngaluncurkeun dimana waé sukuna ngalengkah. Wandering ti hiji daérah ka tempat anu sanés. Taun-taun Sangkuriang ngumbara sareng tina perjalanan anjeunna ngagaduhan seueur kanyaho ti hiji sakola ka sanés. Di sajaba saurang pamuda anu pinter, anjeunna ogé putri Déwi ku anjeunna janten gampang meunang kakuatan gaib ti sagala rupa paguron luhur. Adversities Dugi ka hiji dinten, Sangkuriang dugi ka hiji kampung.Sabenerna, désa kasebut nyaéta kampung kalahiranna, tapi Sangkuriang henteu mikawanoh kusabab seueur pisan parobahan di Sang. Salian ti éta, tatu dina sirahna nalika anjeunna ditimpang ku indungna sareng setrésna kusabab maotna Tumang sareng diasingkeun Dayang Sumbi damel anjeunna hilap budak leutik. Nalika istirahat sakedap di toko nginum, Sangkuriang ningali sosok wanoja. anjeunna kaget ku kageulisan-Na sareng dimaksudkeun pikeun kawin ka dirina. Sangkuriang teu terang yén awéwé éta Dayang Sumbi. Kusabab Dayang Sumbi mangrupikeun katurunan dewa sahingga henteu tiasa umur. Beungeutna sapertos ngora salaku budak awéwé rumaja, sareng anu dilakukeun Sangkuriang henteu mikawanoh indungna sorangan. Dayang Sumbi mimitina henteu terang saha anu Sangkuriang, kusabab murangkalih anjeunna ngagaduhan pamuda anu kasép sareng ganteng. Nalika Sangkuriang ngadeukeutan anjeunna, anjeunna henteu curiga dugi anjeunna ningali tapak tatu dina dahi pemuda éta. Anjeunna terang sakali yén pamuda éta nyaéta Sangkuriang, anak buahna. Dayang Sumbi janten sieun pisan, khususna kusabab Sangkuriang henteu percanten kateranganana. Anu anom nonoman anu ogé cinta mendesak nerapkeun Dayang Sumbi. Kusabab anjeunna teu kapikiran, Dayang Sumbi ogé ngusulkeun dua kaayaan. Mimiti, Sangkuriang kedah ngirung walungan Citarum, sareng kaayaan kadua, Sangkuriang kedah ngadamel kanu ageung pikeun nyebrang walungan. Duanana kaayaan kedah dicumponan sateuacan kabupaten.Dayang Sumbi ngira yén dua kaayaan éta bakal ngiringan Sangkuriang turun. Anjeunna henteu terang yén budakna ngagaduhan kakawasaan gaib. Gancang, Sangkuriang sapuk kana pamundut anu teu masuk akal sapertos kitu. Peuting éta Sangkuriang méncér, ngahijikeun mujijat sareng ngetren mahluk gaib pikeun ngabantosan padamelan walungan walungan. Dayang Sumbi anu cicingeun ngintip padamelan na hariwang. "Kumaha upami Sangkuriang suksés dina nyampurnakeun éta? Teu aya deui cara kuring tiasa nikah ka anak kuring sorangan." Dayang Sumbi ngusik uteukna. Pas tugas Sangkuriang ampir réngsé, Dayang Sumbi ngayakeun salé sutera beureum, teras ngadoakeun ka déwa di surga pikeun ngabantosan anjeunna. Selendang beureum ngalayang ka wétan, sareng ditutup bagéan langit. Jalma nyangka panonpoé parantos naék di cakrawala sabab langit parantos beureum. Sangkuriang reuwas sareng henteu ngaharepkeun énjing-énjing gancang-gancang nyangka. Anjeunna engké diajar yén ieu mangrupikeun padamelan Dayang Sumbi anu henteu hoyong kawin ka anjeunna. Lantaran haté pegat, Sangkuriang jadi ambek. Anjeunna angkat berserk, ngarobih bendungan anu anjeunna dilakukeun. Cai susukan pencét sareng nyababkeun banjir badang. Warga masarakat sieun jeung lumpat nguriling milarian tempat anu aman. Legenda Rakyat Jawa Kulon ngeunaan Tangkuban Perahu Legenda Rakyat Jawa Kulon ngeunaan Tangkuban Perahu Amarah Sangkuriang teu lirén di dinya. Anjeunna tuluy ditajong parahu gedé dugi ka mumbul jauh.Kakawasaan-Na ngajantenkeun kanu murag terbalik sareng janten gunung. Dugi ka ayeuna, gunung anu katingalina siga sampan terbalik masih tiasa katingal, namina mangrupikeun gunung Tangkuban Perahu. Pesen Moral ti Folktale of West West - Legenda Tangkuban Perahu nyaéta yén urang kedah hormat teras nurut naon anu diucap ku kolot, sareng dipikacinta piaraan urang. Ogé urang henteu kedah napsu hawa nafsu supados urang gampang ambek
Semua terjemahan yang dibuat di dalam TerjemahanSunda.com disimpan ke dalam database. Data-data yang telah direkam di dalam database akan diposting di situs web secara terbuka dan anonim. Oleh sebab itu, kami mengingatkan Anda untuk tidak memasukkan informasi dan data pribadi ke dalam system translasi terjemahansunda.com. anda dapat menemukan Konten yang berupa bahasa gaul, kata-kata tidak senonoh, hal-hal berbau seks, dan hal serupa lainnya di dalam system translasi yang disebabkan oleh riwayat translasi dari pengguna lainnya. Dikarenakan hasil terjemahan yang dibuat oleh system translasi terjemahansunda.com bisa jadi tidak sesuai pada beberapa orang dari segala usia dan pandangan Kami menyarankan agar Anda tidak menggunakan situs web kami dalam situasi yang tidak nyaman. Jika pada saat anda melakukan penerjemahan Anda menemukan isi terjemahan Anda termasuk kedalam hak cipta, atau bersifat penghinaan, maupun sesuatu yang bersifat serupa, Anda dapat menghubungi kami di →"Kontak"
Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)