Indonesia

Raden Pamanah Rasa, kakek dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)–dalam konteks Sunda-Siliwangi-Padjajaran merupakan episode The Last Kujang di abad XVI. Sosok pemimpin Sunda yang muncul dari latar kesedihan dinasti terdahulu, dengan kharisma yang merambat ke seantero Nusantara, tak terkecuali tatkala kepulauan ini terjamah para pendatang dari Eropa. Sosok raja Sunda yang berkarakter ‘teuas peureup lemes usap, pageuh keupeul lega awur’ yaitu kepemimpinan yang memiliki keteguhan dalam berprinsip dengan tetap menjunjung tinggi makna welas asih, serta memiliki jiwa yang bersahaja yang tetap memikirkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dialah sosok raja besar yang diakui oleh beragam keyakinan. Novel ini, kabarnya, menjadi sebuah gong untuk penulisan-penulisan novel selanjutnya tentang kemaharajaan Nusantara yang belum terungkap. Novel ini ditulis berdasarkan kisah tutur dalam tradisi lisan. Penulis berupaya menuliskan apa yang tak sempat dituliskan. Ruang-ruang yang samar, bahkan gelap, dalam sejarah rupanya memberikan keleluasaan bagi penulis untuk menggali narasi dengan mengandalkan imajinasi, mencoba mencari titik sambung antara satu dan lain masa, membentangkan garis hubungan antara tempat yang satu dan tempat lainnya. Dari awal sampai akhir cerita, sangat tampak bahwa penulis cerdas dalam menata data sejarah ke dalam bentuk novel, patut diacungi jempol. Sejarah yang mana, dari mana, bagaimana tingkat kesahihannya, dipadu dengan data yang berasal dari tradisi lisan menjadikan ‘sejarah’ Raden Pamanah Rasa yang putus kejadiannya menjadi hidup dan berkesinambungan. Novel ini menyiratkan pesan yang mengajak kita untuk berani mempertaruhkan bahwa tradisi lisan patut diperhatikan dengan seksama keberadaannya. Sejarah bukanlah sekadar kejadian di masa lalu, sesungguhnya ia merupakan "ruh" yang mewarnai kehidupan suatu bangsa, maka bangsa yang beradab tidak pernah melupakan kisah sejarah para leluhurnya. Dalam novel Raden Pamanah Rasa ini banyak tersaji nama tokoh sejarah di zaman kerajaan dan itu membantu mengingatkan kita kepada "jati diri dan cara-ciri kebangsaan" yang dibentuk oleh keberadaan sejarah kerajaan besar beserta tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Selain gambaran sejarah, melalui novel ini, penulis mampu mengungkap dan menuturkan dengan baik nilai-nilai filosofi adi luhung yang disisipkan melalui jalan cerita, bahkan cukup banyak peristilahan dengan sengaja tidak diganti ke dalam bahasa Indonesia agar tidak mengurangi makna yang sesungguhya. Raden Pamanah Rasa, kisah berlatar sejarah Nusantara yang digali dari sumber tradisi lisan, memang sangat pelik untuk diungkapkan dalam kondisi kekinian. Setidaknya diperlukan gaya ungkap yang memadukan alur rasional, emosional, dan spiritual. Penulis benar-benar melesat jauh melebihi genre-nya. Keyakinan ia dalam menggali sumber kisah, bukan hanya mengandalkan modalitas auditif, melainkan visual dan kinestetik. Ia melumatkan secara kritis dirinya dalam sumber, sehingga misi kisah menghunjam jantung perenungan dan mendobrak kesadaran akan kejatidirian. Raden Pamanah Rasa atau dalam cerita pantun dikenal dengan nama Mundinglaya Di Kusuma atau Sunan Pagulingan ketika posisinya menjadi Rama adalah putra Sunan Prabu Dewa Niskala atau Ningrat Kancana bergelar Adipati Kertabumi ketika memegang posisi sebagai Ratu Galuh atau Prabu Anggalarang ketika menjadi Raja Sunda di Pakujajar. Ketika berdiam di Cirebon Girang, Prabu Anggalarang bergelar Ki Gedeng Singapura. Setelah terjadinya Perang Bubat, bukan saja menggagalkan pernikahan Mayong Wuruk (Hayam Wuruk) dengan Dyah Pitaloka Citraresmi, Raden Purwa Andayaningrat atau Hyang Bunisora yang ketika menjadi Mahapatih Pakuan dikenal dengan nama Mahapatih Anapaken atau Batara Guru Niskala Wastukancana memindakan Kerajaan Galuh dari Panjalu ke Lawang Gintung dengan nama Galuh Anyar atau Kerajaan Pakujajar. Sementara Adipati Kertabumi atau Ningrat Kancana atau ketika berasa di Muntur/Panjalu dikenal dengan nama Prabu Di Muntur, pindah ke Jonggol mendirikan Kerajaan Subang Larang. Di Kerajaan Subang Larang inilah Ningrat Kancana bergelar Ki Gedeng Singapura. Kerajaan ini diperuntukan untuk putra mahkotanya yaitu Raden Pamanah Rasa. Semasa Kerajaan Pakujajar yang berdiri di atas falsafah negara yaitu Negara Kerta Bumi, posisi Ratu dipegang oleh Ningrat Kancana atau Dewa Niskala, sedangkan posisi Resi dipegang oleh Rahyang Kancana atau Prabu Susuk Tunggal atau Sang Haliwungan yang ketika di Jawa bernama Mayong Wuruk atau Hayam Wuruk. Kerajaan Pakujajar tidak lama berdiri karena hadirnya Amuk Murugul atau Adipati Nangganan yang menginginkan posisi Rama Agung. Obsesis Amuk Murugul ini diwujudkan dengan upaya mengadudomba dua saudara yaitu Prabu Anggalarang dengan Prabu Susuk Tunggal. Akibat dari fitnah inilah kemudian muncul Perang Cogreg. Sebagai akibatnya kedudukan Prabu Anggalarang dari posisi Ratu dan menurunkan Prabu Susuk Tunggal dari posisinya sebagai Resi, kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Lawang Gintung ke Sumedang Larang dengan nama Pakuan Pajajaran. Sebelum peristiwa ini Raden Pamanah Rasa yang waktu itu posisinya masih sebagai Putra Mahkota Kerajaan Galuh, pernah saling berhadapan dengan Amuk Murugul yaitu dalam peristiwa sayembara yang diselenggarakan oleh Ki Gedeng Tapa penguasa di Cirebon Girang, untuk memperebutkan putrinya Nyai Subang Larang. Sayembara ini dimenangkan oleh Raden Pamanah Rasa yang menyamar menjadi Raden Sunu sebagai perwakilan wilayah Surantaka. Kemudian keduanya menikah. Ini merupakan pernikahan kedua bagi Raden Pamanah Rasa, karena sebelumnya setelah menaklukan Harimau Putih atau Giling Wesi dari Kerajaan Harimau, telah menikah dengan Nyai Ambet Kasih atau Putri Buniwangi, putri Ki Gedeng Sendang Kasih penguasa di Surantaka yang tak lain adalah adik Raja Galuh (ayah Raden Pamanah Rasa), Prabu Anggalarang. Pernikahan Raden Pamanah Rasa dengan Nyai Ambet Kasih merupakan wujud cinta yang telah lama bersemi, karena sejak kecil sebenarnya Raden Pamanah Rasa dididik dan diangkat putra oleh Ki Gedeng Sendang Kasih. Kegemaran Raden Pamanah Rasa mengembara, menyebabkan posisi sebagai Surantakan ditinggalkan dan diurus oleh Nyai Ambet Kasih. Baru setelah turunnya Prabu Anggalarang dari posisi Ratu dan memindahkan pusat Kerajaan ke Sumedang Larang dengan nama Pakuan Pajajaran, Raden Pamanah Rasa menerima jabatan sebagai Raja Pakuan Pajajaran. Datangnya Portugis ke Malaka menjadi pekerjaan berat bagi Raden Pamanah Rasa dalam posisi sebagai Raja Sunda. Ekspedisi Portugis yang datang ke Malaka dengan persenjataan modern (menggunakan senapan dan meriam) bukan tandingan para datuk di Nusantara yang pada saat itu masih menggunakan senjata tradisional. Misi ekspedisi Portugis yang datang untuk menjalin hubungan perdagangan dengan raja-raja di Nusantara ternyata menyimpan misi rahasia yaitu penyebaran agama katolik. Keadaan ini juga membuat bingung para datuk karena ternyata misi dagang itu dipersenjatai lengkap seperti layaknya pasukan atau angkatan perang. Tentu saja ketika para datuk di Malaka bertekuk lutut, mereka dipaksa untuk menyampaikan ajaran agama baru itu. Inilah yang kemudian membuat bingung para datuk, sebab Nusantara pada saat itu telah menganut agama islam. Ketika dalam pertemuan, akhirnya para datuk menyetujui niat ganda pasukan Portugis itu dengan catatan mendapat persetujuan dari Raja Sunda yang pada saat ini sedang dipegang oleh Raden Pamanah Rasa. Pernikahan ketiganya dengan Nyai Kentring Manik Mayang Sunda putri Prabu Susuk Tunggal. Pernikahan ini sebagai pertanda disatukannya Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Akhirnya utusan Portugis dibawah pimpinan Laksamana Bungker bertemu dengan Raden Pamanah Rasa bergelar Sri Baduga Maharaja, di suatu tempat ketika sedang mencangkul. Tentu saja utusan Portugis merasa heran bagaimana mungkin seorang Raja Sunda yang demikian dikagumi para datuk di Nusantara ternyata hanya seorang tukang berkebun. Utusan Portugis memang tidak tahu bila Raden Pamanah Rasa sedang menyamar. Utusan Portugis itupun menyampaikan niatnya. Raden Pamanah Rasa bersedia untuk hadir di Malaka. Sebelum pergi ke Malaka, Raden Pamanah Rasa melakukan sowan ke Banten Girang, kepada seorang guru agama yaitu Tubagus Hasanudin putra Amuk Murugul atau ketika masih di Jawa Timur dikenal dengan nama Damar Wulan. Sowannya Sri Baduga atau Raden Pamanah Rasa merupakan perwujudan kesederajatan antara Sunda dan Islam. Missi Raden Pamanah Rasa sebagai Raja Sunda ke Malaka juga mewakili negeri-negeri islam di Nusantara pada saat itu seperti Malaka, Goa, Aceh dan negeri lainnya. Raden Pamanah Rasa memimpin delegasi islam di Malaka menghadapi perwakilan Portugis. Diskusi panjang terjadi karena berubahnya niat Portugis yang awalnya ingin berdagang, kemudian mengemban misi agama. Raden Pamanah Rasa meminta perwakilan Portugis itu menyatakan dengan tegas apa yang dikatakan perwakilan itu merupakan kebijakan Ratu di negerinya. Raden Pamanah Rasa menolak menyebaran agama karena di Nusantara sudah menganut islam, tapi bila ingin berdagang dengan tangan terbuka negeri-negeri di Nusantara. Akhirnya Portugis mengakui bila tujuan utamanya adalah berdagang, sehingga dipersilakan membuka kantor perwakilan dagang di Nusantara. Ketika Portugis memilih perwakilan dagang di Malaka, dengan tegas Raden Pamanah Rasa menolak karena daerah itu sudah cacat hukum. Sebab sebelumnya Portugis sudah mengerahkan pasukan bersenjata untuk mengintimidasi para datuk. Akhirnya disetujuilah kantor perwakilan dagang Portugis itu di ujung timur Nusantara. Sepulang dari Malaka, Raden Pamanah Rasa tidak kembali ke Pakuan Pajajaran melainkan ke Gunung Gede, menyambut kedatangan saudaranya yang memegang surat suci dari Ratu Sunda. Di tempat inilah kemudian diikrarkan untuk pembagian kekuasaan. Sejak saat inilah Gelar Siliwangi mulai dipergunakan. Novel yang didasarkan pada cerita lisan dan historiografi ini dengan gaya penulisan yang mengalir mampu merekonstruksi jejak sejarah kebesaran raja-raja Nusantara di masa silam, khususnya Kemaharajaan Sunda di masa akhir. Novel Raden Pamanah Rasa: Kemaharajaan Nusantara yang Tak Terungkap, membuktikan bahwa history is stranger than fiction - sejarah lebih ajaib dari fiksi. Kearifan budaya Pasundan yang indah dan adiluhung dihidupkan kembali dalam kisah heroik Raden Pamanah Rasa - Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata - sebuah cerita yang memiliki ruh dan jiwa leluhur Parahyangan. Novel ini bukan sekadar fiksi, ada perspektif alternatif yang rinci terkait terma Siliwangi yang ditampilkan secara apik dan rapi. Peminat susastra dan sejarah yang tertarik akan perspektif alternatif perlu membaca novel ini. Menjelajah sejarah, untuk menemukan narasi besar biografi kekuasaan, memerlukan beragam pendekatan. Salah satunya dengan teknik jurnalisme investigasi, seperti yang dilakukan penulis dalam penyusunan novel ini. Tak hanya data tertulis dari buku referensi maupun situs di internet, novelnya disusun pula dari interpretasi lapangan dengan menemui sumber-sumber lain yang juga penting. Sehingga pengambilan versi mana yang dipilih, merupakan pertangungjawabannya dan kerja intelektual sebagai seorang sastrawan yang mempunyai passion kesejarahan. Ini bukan masalah memilih mana yang paling kontroversial. Raden Pamanah Rasa dibuat dalam aroma untuk menemukan substansi etika novel sejarah, yang juga mempertimbangkan secara cerdas estetikanya. Buku ini sungguh berisi dan memberikan wawasan baru mengenai ke-Sunda-an pada zaman Pajajaran. Semua Wangsa Sunda yang peduli akan budayanya dan Kasundaan wajib mengoleksi dan membacanya. Baca dan akan kalian temukan sentuhan romantisme Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Ambet Kasih yang melengkapi keindahan novel ini seakan kalian menonton sebuah film yang mengasyikkan.

Sunda

Radén Pamanah Rasa, akina Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) - dina konteks Sunda-Siliwangi-Padjajaran mangrupikeun episode ngeunaan Kujang Terakhir di abad XVI. Tokoh pamimpin Sundana anu muncul tina latar kasedihan dinasti saméméhna, kalayan karisma anu sumebar ka nusa-nusantara, teu aya deui nalika kapuloan disentuh ku imigran ti Éropa. Tokoh raja Sundan anu ngagaduhan watak 'suling peureup lemes ngusap, pageuh keupeul lega awur' nyaéta pimpinan anu teguh di kapala ku teras ngajunjung artos welas asih, sareng ngagaduhan jiwa sederhana anu masih mikir kaadilan sareng karaharjaan pikeun umat-Na. Anjeunna mangrupikeun tokoh raja anu hébat dipikenal ku rupa-rupa kapercayaan. Novel ieu, dilaporkeun janten gong nyerat novel-novel langkung seueur ngeunaan kakaisaran Nusantara anu henteu acan wangsit. Novél ieu ditulis dumasar kana narasi carita dina tradisi lisan. Panulis nyoba nulis naon anu teu ditulis ka handap. Rapat samar, bahkan poék, dina sajarah sigana nyayogikeun pikeun panulis pikeun ngajalajah narasi ku ngandelkeun imajinasi, nyobian milari titik hubungan antara hiji waktos sareng anu sanés, ngaladarkeun garis hubungan antara hiji tempat sareng anu sanés. Ti mimiti dugi ka akhir carita, atos katingali panulis anu pinter dina ngatur data sajarah kana bentuk novel, pantes jempolna.Sejarah anu mana, kumaha tingkat tingkat validitas, dikombinasikeun sareng data anu diturunkeun tina tradisi lisan ngajadikeun 'sejarah' Radén Pamanah Rasa anu ngiringan kagiatan supados hirup sareng lestari. Novel ieu nunjukkeun pesen anu ngajak urang pikeun daék résiko yén tradisi lisan pantes nengetan pikeun ayana. Sejarah henteu ngan ukur kajadian dina jaman baheula, saleresna mangrupikeun "semangat" anu warnana kahirupan hiji bangsa, janten nagara beradab henteu kantos hilap sajarah karuhunna. Dina novél Radén Pamanah Rasa aya seueur nami inohong sajarah dina jaman karajaan sareng aranjeunna ngabantosan ngingetkeun "identitas nasional sareng kabangsaan" dibentuk ku ayana sajarah karajaan anu hébat sareng tokoh-tokoh anu kasebat dina éta. Salian gambar sajarah, ngalangkungan novel ieu, panulis tiasa ngungkabkeun sareng nyarioskeun nilai-nilai filosofi gaib anu diselapkeun ngaliwatan jalan carita, bahkan rada seueur istilah anu ngahaja teu diganti dina basa Indonésia ku kituna henteu ngirangan artina nyata. Radén Pamanah Rasa, carita anu aya dina sajarah Nusantara anu digali tina sumber tradisi lisan, memang rumit pisan bakal diturunkeun dina kaayaan ayeuna. Sahenteuna éta butuh gaya ekspresi anu ngagabungkeun jalur anu rasional, émosional, sareng spiritual. Panulis bener-bener jauh tibatan genre.Anjeunna yakin dina ngajajah sumber carita, henteu ukur ngandelkeun modalitas auditif, tapi visual sareng kinestetik. Anjeunna nyusahkeun dirina sacara kritis dina sumber éta, ku kituna misi carita na lebet kana haté kontemplasi sareng nyuratan kasadaran diri. Radén Pamanah Rasa atanapi dina carita pantun anu katelah Mundinglaya Di Kusuma atanapi Sunan Pagulingan nalika anjeunna janten Rama mangrupikeun putra Prabu Siliwangi Dewa Niskala atanapi Ningrat Kancana kalayan gelar Adipati Kertabumi nalika nyekel jabatan Ratu Galuh atanapi Prabu Anggalarang nalika anjeunna janten Raja Sunda di Pakujajar. Nalika cicing di Cirebon Girang, Prabu Anggalarang ngagelar gelar Ki Gedeng Singapura. Saatos Perang Bubat, henteu ngan ukur ngalambatkeun pernikahan Mayong Wuruk (Hayam Wuruk) sareng Dyah Pitaloka Citraresmi, Radén Purwa Andayaningrat atanapi Hyang Bunisora ​​anu nalika aranjeunna janten Mahapatih Pakuan dikenal janten Mahapatih Anapaken atanapi Batara Guru Niskala Wastukancana pikeun mindahkeun Karajaan Galuh ti Panjung ka Lengan Gintung tina Panjung Lama Gintung tina Panjung Lama Guhung Banten tina Panjung Lama Gintung. nami Galuh Anyar atanapi Karajaan Pakujajar. Nalika Adipati Kertabumi atanapi Ningrat Kancana atanapi nalika aranjeunna di Muntur / Panjalu, katelah Prabu Di Muntur, ngalih ka Jonggol pikeun ngadegkeun Karajaan Subang Larang. Dina karajaan Subang Larang, Ningrat Kancana kagungan gelar Ki Gedeng Singapura. Karajaan ieu ditujukeun pikeun pangeran makuta, Radén Pamanah Rasa.Salami Karajaan Pakujajar anu ngadeg dina filsafat nagara nyaéta Kerta Bumi State, jabatan Ratu dilaksanakeun ku Ningrat Kancana atanapi Dewa Niskala, sedengkeun jabatan Rishi diayakeun ku Rahyang Kancana atanapi Prabu Susuk Tunggal atanapi Haliwungan anu nalika di Jawa disebat Mayong Wuruk atanapi Hayam Wuruk. Karajaan Pakujajar henteu lami didirikan kusabab ayana Amuk Murugul atanapi Adipati Langganan anu hoyong jabatan Rama Agung. Obsesi Amuk Murugul dibuktikeun dina usaha kontén dua duduluran nyaéta Prabu Siliwangi Anggalarang sareng Prabu Siliwangi Susuk Tunggal. Hasil tina fitnah ieu sumping Perang Cogreg. Hasilna, jabatan Prabu Anggalarang tina jabatan Ratu sareng nurunkeun Raja Susuk Tunggal tina jabatanana salaku Resi, teras pindah pusat pamaréntahan ti Lawang Gintung ka Sumedang Larang kalayan nami Pakuan Pajajaran. Sateuacan kajadian ieu Radén Pamanah Rasa, anu dina waktos éta masih Pangeran Mahkota Karajaan Galuh, kantos ngadamel Amuk Murugul dina sayembara anu diayakeun ku pamimpin Ki Gedeng Tapa di Cirebon Girang, pikeun tarung putrina Nyai Subang Larang. Kontes dimeunangkeun ku Radén Pamanah Rasa anu nyamar dirina salaku Radén Sunu salaku wakil daérah Surantaka. Tuluy nikah dua.Ieu mangrupikeun pernikahan kadua pikeun Radén Pamanah Rasa, sabab sateuacanna sateuacan ngawasa Harimau Bodas atanapi Mills Wesi ti Karajaan Macan, anjeunna parantos nikah ka Nyai Ambet Kasih atanapi Putri Buniwangi, putri Ki Gedeng Sendang Kasih, panguasa di Surantaka anu teu lain ti dulur adina Raja Galuh. Pamanah Rasa), Prabu Siliwangi Anggalarang. Nikah Radén Pamanah Rasa sareng Nyai Ambet Kasih mangrupikeun wujud cinta anu parantos lami mekar, sabab saprak budak leutik Radén Pamanah Rasa saleresna dididik sareng digedékeun ku putra ku Ki Gedeng Sendang Kasih. Janggi Radén Pamanah pikeun ngumbara, nyababkeun jabatanana salaku Surantakan ditinggalkeun sareng diurus ku Nyai Ambet Kasih. Ngan saenggeus Prabu Anggalarang dikaluarkeun tina jabatan Permaisuri sareng ngalih ka pusat Karajaan Sumedang Larang di handapeun nami Pakuan Pajajaran, Radén Pamanah Rasa nampi jabatan Raja Pakuan Pajajaran. Datang ti Portugis di Malaka mangrupikeun gawé keras pikeun Radén Pamanah Rasa dina posisi Raja Sunda. Ekspedisi Portugis anu sumping di Malaka nganggo senjata modern (nganggo bedil sareng meriam) henteu cocog pikeun datuk di Nusantara anu dina waktos éta masih nganggo senjata tradisional. Misi ekspedisi Portugis anu sumping pikeun ngadegkeun hubungan perdagangan sareng raja-raja Nusantara tétéla tetep misi rahasia, nyaéta panyebaran Katulik.Kahanan ieu ogé nyababkeun datuk bingung sabab tétéla yén misi dagangna angkatan senjata lengkep, sapertos tentara atanapi tentara. Tangtosna nalika progenitor di Maluhung sujud, aranjeunna kapaksa nyebarkeun ajaran agama anyar. Hal ieu teras ngajantenkeun datuk bingung, sabab Nusantara dina waktos éta parantos nampi agama Islam. Nalika dina rapat éta, datuk tungtungna nyatujuan pikeun duaan maksakeun pasukan Portugis kalayan catetan yén aranjeunna nampi persetujuan ti Raja Sunda anu ayeuna dicekel ku Radén. Rasa Paman. Nikah katilu sareng Nyai Kentring Manik Mayang Sunda putri Prabu Susuk Tunggal. Perkawinan ieu mangrupikeun tanda ngahijikeun Karajaan Galuh sareng Karajaan Sunda. Ahirna utusan Portugis handapeun pimpinan Laksamana Bungker tepang sareng Radén Pamanah Rasa anu judulna Sri Baduga Maharaja, dimana waé anjeunna nuju némbalan. Tangtosna utusan Portugis kaget kumaha hiji raja Sundana anu jadi kagum ku datuk di Nusantara tétéla janten tukang kebon. Utusan Portugis henteu terang naha Radén Pamanah Rasa nyamar. Utusan Portugis ogé nyarioskeun maksud na. Radén Pamanah Rasa daék hadir di Malaka. Sateuacan angkat ka Malaka, Radén Pamanah Rasa sowan ka Banten Girang, ka guru agama nyaéta Tubagus Hasanudin putra Amuk Murugul atanapi nalika anjeunna masih aya di Jawa Wétan katelah Damar Wulan.Sowannya Sri Baduga atanapi Radén Pamanah Rasa mangrupikeun gambaran anu sarua antara urang Sunda sareng Islam. Misi Radén Pamanah Rasa salaku Raja Sunda ka Malaka ogé ogé ngalambangkeun nagara-nagara Islam di Nusantara dina waktos éta sapertos Malaka, Goa, Aceh sareng nagara-nagara sanésna. Radén Pamanah Rasa mingpin rombongan Islam di Malaka pikeun nyanghareupan wawakil Portugis. Diskusi panjang kajantenan kusabab parobihan dina niat Portugis, anu mimitina badé dagang, teras dilaksanakeun misi agama. Radén Pamanah Rasa ngajak perwakilan Portugis nyatakeun kalayan jelas naon anu diawakilan perwakilan nyaéta kabijakan Ratu di negaranya. Radén Pamanah Rasa nolak nyebarkeun agama kusabab Nusantara parantos nganut agama Islam, tapi upami anjeun badé usaha dagang sareng nagara-nagara leungeun di Nusantara. Antukna Portugis sadar yén tujuan utami nya éta dagang, ku kituna diajak ngabuka kantor perwakilan dagang di Nusantara. Nalika Portugis milih wawakil dagang di Malaka, Radén Pamanah Rasa parantos nampik kumargi daérah éta parantos sah diacungkeun. Kusabab sateuacan Portugis parantos ngamancarkeun angkatan bersenjata pikeun kagum progenitors. Akhirna kantor perwakilan Portugis sapuk di tungtung wétan Nusantara. Saatos wangsul ti Malaka, Radén Pamanah Rasa henteu uih deui ka Pakuan Pajajaran tapi ka Gunung Gede, ngabagéakeun kadatangan lanceukna anu ngagaduhan surat suci ti Ratu Sunda. Di tempat ieu teras ngajangjikeun kakuatan distribusi.Ti waktos ieu Judul Siliwangi mimiti dianggo. Novel didadasaran ku carita lisan sareng historiografi kalayan gaya tulisan anu ngalir anu tiasa ngarékonstruksi tilikan sajarah kaagungan raja-nagara Nusantara dina jaman baheula, khususna Kakaisaran Sunda dina dinten-dinten akhir. Novel Radén Pamanah Rasa: Nusantara Unexploded Nusantara, ngabuktikeun yén sajarah henteu asing ti fiksi - sejarah langkung gaib tibatan fiksi. Hikmah endah sareng berharga kabudayaan Pasundan diareupkeun dina carita pahlawan Radén Pamanah Rasa - Prabu Guru Gantang Sang Sri Jaya Dewata - carita anu ngagaduhan jiwa sareng jiwa karuhun Parahyangan. Novel ieu sanés fiksi mung, aya perspektif alternatif anu terkait sareng istilah Siliwangi anu dibere rapih sareng rapih. Para peminat literatur sareng sejarah anu resep kana perspektif alternatif kedah maca novél ieu. Ngalanglang sajarah, pikeun milari naratif kakuatan anu ageung, peryogi rupa-rupa pendekatan. Salah sahijina nyaéta téknik jurnalisme investigative, sakumaha anu dilakukeun ku panulis dina nyiapkeun novel ieu. Henteu ngan ukur data tinulis tina buku rujukan sareng situs web di internet, novélna ogé disusun tina interpretasi lapangan ku rapat sumber penting. Janten versi anu dipilih, mangrupikeun tanggung jawab sareng karya intelektual salaku panulis anu ngagaduhan gairah sajarah. Henteu janten masalah milih anu mana anu paling kontroversial.Radén Pamanah Rasa nyiptakeun aroma pikeun étis pikeun novél sajarah anu ogé sacara pinter dianggap éstétikana. Buku ieu bener-bener ngandung sareng masihan pandangan anyar ngeunaan Sunda di jaman Pajajaran. Sadaya urang Sunda anu paduli kana budaya sareng Kasunda kedah ngempelkeun sareng maca. Maca sareng anjeun tiasa mendakan sentuhan romantis Radén Pamanah Rasa sareng Nyi Ambet Kasih anu nyampurnakeun kaéndahan novel ieu saolah-olah ningali pilem anu pikaresepeun.

TerjemahanSunda.com | Bagaimana cara menggunakan terjemahan teks Indonesia-Sunda?

Semua terjemahan yang dibuat di dalam TerjemahanSunda.com disimpan ke dalam database. Data-data yang telah direkam di dalam database akan diposting di situs web secara terbuka dan anonim. Oleh sebab itu, kami mengingatkan Anda untuk tidak memasukkan informasi dan data pribadi ke dalam system translasi terjemahansunda.com. anda dapat menemukan Konten yang berupa bahasa gaul, kata-kata tidak senonoh, hal-hal berbau seks, dan hal serupa lainnya di dalam system translasi yang disebabkan oleh riwayat translasi dari pengguna lainnya. Dikarenakan hasil terjemahan yang dibuat oleh system translasi terjemahansunda.com bisa jadi tidak sesuai pada beberapa orang dari segala usia dan pandangan Kami menyarankan agar Anda tidak menggunakan situs web kami dalam situasi yang tidak nyaman. Jika pada saat anda melakukan penerjemahan Anda menemukan isi terjemahan Anda termasuk kedalam hak cipta, atau bersifat penghinaan, maupun sesuatu yang bersifat serupa, Anda dapat menghubungi kami di →"Kontak"


Kebijakan Privasi

Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)