Palintangan Sunda Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian Palintangan Sunda adalah istilah yang berasal dari bahasa kawi lintang yang memiliki arti bintang. Secara harfiah, palintangan bermakna ilmu perbintangan atau ilmu palak.[1] Palintangan ini masuk dalam kategori pengetahuan tradisional masyarakat Sunda untuk menentukan hari yang baik dan arah mana yang harus ditempuh untuk mencapai satu tujuan.Palintangan di tatar Sunda mempunyai sebutan yang berbeda untuk beberapa daerah. Di daerah Ciwidey Kabupaten Bandung disebut dengan tunduk, di daerah Baduy Provinsi Banten disebut kolejer, dan di daerah Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya disebut dengan tunuk.[2] Orang Sunda sejak zaman duhulu telah mengetahui dunia perbintangan (palintangan), seperti adanya pranata mangsa (aturan musim) untuk menentukan perhitungan waktu sebagai pedoman bercocok tanam. Keterkaitan palintangan dengan tradisi agraris Sunda juga melahirkan penentuan musim dalam satu tahunnya. Palintangan yang hidup dalam kosmologi budaya Sunda itu menunjukkan bahwa manusia sangat akrab dengan kondisi lingkungan alam, termasuk dengan astronomi. Konsep kelahiran, kehidupan, dan kematian, yang juga dialami segenap benda langit, telah merasuki alam pikiran dan jiwa batin manusia. Termasuk masyarakat Sunda yang menjadikan fenomena palintangan sebagai inspirasi dan pedoman dalam melaksanakan hidup dan pencarian eksistensinya sebagai makhluk hidup yang terkait erat dengan lingkungan alam. Kearifan budaya Sunda dalam mencermati dan mengamati alam semesta seperti peredaran Matahari, Bulan, telaah tentang rasi bintang serta penentuan pranata mangsa telah memberi arti yang mewarnai perkembangan ilmu astronomi.[3] Daftar isi • 1Sistem • 2Naktu • 3Kala • 4Pranata Mangsa • 5Menentukan hari naas, keselamatan, dan rizki • 6Hari kelahiran Bayi dan Nasib • 7Ramalah tentang barang yang hilang • 8Catatan kaki Sistem[sunting | sunting sumber] Sistem Palintangan bertumpu pada pola perhitungan hari, pasaran, bulan, tahun, dan nilai-nilai lai yang disebut naktu. Hasil dari Palintangan tersebut akan menghasilkan poe alus (hari baik) atau poe naas (hari sial). Acuan perhitungan hari (Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Juma’at, Sabtu) dan perhitungan pasaran (Kaliwon, Manis, Pahing, Pon, Wage) memiliki nilai pada masing-masing penentuan hari dan pasarannya.[4] Selain itu, palintangan juga dapat dijadikan rujukan menentukan pergerakan matahari. Pada siang hari, pergerakan matahari menuju ke arah timur dan barat, dan pergerakan bulan pada malam hari jadi pedoman bagi manusia untuk menentukan hari dalam perhitungan bulan. Selanjutnya bintang Crux (pari), Biduk, dan Scorpio dapat dijadikan rujukan untuk menunjuk arah selatan, arah tenggara, dan arah utara. Rasi Orion (luku, waluku,wuluku) dipakai dalam menentukan musim atau perhitungan kalender untuk kegiatan bertani atau bercocok tanam. Berdasarkan pada benda angkasa yang telah disebutkan, rasi orion benda yang sangat penting dalam kaitannya dengan kegiatan pertanian.[5] Naktu[sunting | sunting sumber] Naktu adalah perhitungan repok yang diambil dari asal nama aksara dengan angka yang setelah keduanya dijumlahkan akan ketahuan bagus atau tidaknya perhitungan repok tersebut. [6] Naktu berasal dari bahasa arab nuqtah yang artinya perhitungan repok berdasarkan angka. Cara mencari waktu yang baik untuk melaksanakan suatu maksud seperti menikahkan anak, sunat, bepergian, dll. Biasanya dengan menghitung berdasarkan nama yang bersangkutan kalau ditulis dengan aksara Cacarakan ditambah dengan nilai hari yang sudah ada rumusnya. Dari situ akan diketahui kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan maksud tersebut.[7] Perhitungan repok naktu bisa ditentukan dengan rumus berikut.[8] Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Angka 4 3 7 8 6 9 5 Pasaran Keliwon Manis Pahing Pon Wage Angka 8 5 9 7 4 Berdasarkan tabel tersebut jumlah angka hari dan angka pasaran harus berjumlah besar dan tidak bersebrangan dengan kala atau larangan bulan yang sudah ditentukan. [8] Kala[sunting | sunting sumber] Peredaran bulan, matahari, dan bintang ini, menurut kepercayaan orang Sunda dapat menentukan kala, yaitu sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya atau malapetaka. Kepercayaan mengenai perhitungan tersebut juga dimaksudkan agar tidak mapag kala (menyambut kala) dalam segala perbuatan yang akhirnya dapat merugikan diri sendiri atau sekelompok orang. Kala menurut kepercayaan orang Sunda dapat menempati tempat atau arah mata angin tertentu dan setiap hari kala itu akan berpindah tempat. Menurut perhitungan, tempat kala berada adalah sebagai berikut. • Ketika masuk bulan Muharam, Safar, dan Rabiul awal kala berada di sebelah timur lurus, artinya hari yang dilarang adalah Sabtu dan Minggu. • Bulan Rabiul akhir, Jumadi Awal, Jumadi akhir, kala berada di sebelah barat lurus dan barat miring, artinya hari yang dilarang adalah Senin dan Selasa. • Bulan Rajab, Rewah, Puasa, kala berada di sebelah barat laut dan timur, artinya hari yang dilarang adalah Rabo dan Kamis. • Bulan Syawal, Dulqaidah, Rayagung, kala berada di sebelah barat daya, artinya hari yang dilarang adalah Jum'at.[2] Keberadaan kala itu menuntut atau memberi pengaruh agar manusia dalam segala tindakannya sesuai dengan perhitungan kala. Sehingga memberi hasil yang maksimal untuk mencapai kebahagiaan lahir batin di samping untuk mencapai keseimbangan tujuan yang dikehendaki. Dengan demikian, masyarakat Sunda akan mengetahui kapan saat yang tepat untuk mengolah sawah atau menanam padi. membangun rumah, menentukan hari pemikahan, memberikan nama kepada bayi yang baru lahir, untuk mencari barang yang hilang, dan untuk menentukan watak manusia baik berkaitan dengan nama maupun dari tipologi manusia itu sendiri. Selain itu juga mengetahui arah mana yang membawa keberuntungan dan malapetaka sesuai dengan perhitungan naktu dari kelahiran, nama orang dan tempat tinggal. Demikian pula mengenai tumbal-tumbal serta doa penolak bala dan doa keselamatan.[2] Misalkan kita akan memanen padi pada hari senin pahing bulan Dulqaidah. Maka berdasarkan perhitungan senin pahing berjumlah 4+9=13. Dan pada bulan Dulqaidah kala berada di sebelah barat daya hari yang dilarang adalah Jum'at. Artinya hari tersebut dibolehkan untuk memanen padi karena jumlah naktu besar dan tidak masuk larangan bulan atau kala. Tapi kalau memilih juma'at pahing yang berjumlah 6+9=15 tetap tidak dibolehkan apabila masih masuk bulan Dulqaidah, meskipun menurut naktu jum'at pahing memiliki jumlah paling besar di antara satu minggu tersebut. Pranata Mangsa[sunting | sunting sumber] Pranata mangsa merupakan istilah untuk kalender pedoman penanggalan tradisional untuk kegiatan bertani atau bercocok tanam. Pedoman ini disusun berdasarkan pengamatan terhadap alam, terutama berkaitan dengan perubahan iklim di bumi dan pergerakan benda-benda angkasa. Dalam satu tahun terbagi dalam 4 mangsa utama yang terbagi kembali menjadi 12 mangsa. jumlah hari di dalam satu periode mangsa berbeda-beda, dimulai dari dari 24 sampai 43 hari. Jumlah hari dalam dua belas periode mangsa bukan hasil pembagian secara sederhana, tapi erat kaitannya dengan adanya pergantian musim. setiap mangsa menunjukan pola alam pada mangsa tersebut. Sedangkan yang dimaksud empat mangsa utama adalah musim katiga (kemarau), musim labuh (peralihan, pancaroba), dan musim ngijih (musim hujan). Pranata mangsa dipakai petani untuk mengawali bercocok tanam yang sesuai dengan kondisi atau perkembangan [[[cuaca]]. Petani berusaha mengikuti irama musim yang sedang berlangsung supaya usaha pertaniannya sukses. Setiap musim memiliki watak spesifik sebagai reaksi terhadap perilaku mahluk hidup (hewan dan tumbuhan) terhadap dinamika musim atau lintasan benda langit, yaitu bulan dan matahari, bintang dan rasi bintang. Hal ini akan menghasilkan urutan musim dalam kalender Jawa yang juga digunakan oleh masyarakat Sunda.[5] • Kasa (pertama) Mangsa pertama dimulai dari 21 Juni sampai dengan 31 Juli dengan rentang 41 hari. Dilambangkan seperti soyta (daun) dan murca saka ngembanan (kayu-kayuan). Tandanya adalah angin datang dari timur, daun berguguran dari pohonnya, telur jangkrik mulai menetas, siang sangat panas, malam sangat dingin, kondisi tanah panas, bintang ᴡuluku terlihat dari sebelah timur, dan bayangan ke arah selatan. Musim seperti ini, termasuk musim kemarau tidak cocok untuk bercocok tanam.[9] • Karo (kedua) Mangsa kedua dimulai dari tanggal 1 Agustus sampai 23 Agustus dengan rentang ᴡaktu 23 hari. Dilambangkan dengan beutule rengko (tanah belah). Tandanya adalah angin yang datang dari selatan dan utara menuju ke arah barat, siang sangat panas, malam sangat dingin, tanah belah dan kering, sumur dan sungai mengering, puncak pohon mulai tumbuh, seperti pohon karet dan jeruk, bintang ᴡuluku muncul dari arah timur, pohon mangga mulai berbunga. Pada musim ini petani biasanya menanam palaᴡija yang usianya pendek.[9] • Katiga (ketiga) Mangsa ketiga dimulai dari tanggal 24 Agustus sampai 16 September dengan rentang ᴡaktu 24 hari. Tandanya adalah akar mulai ke luar, angin berhembus dari utara, udara dingin namun terasa segar, saatnya panen palaᴡija, petani mulai menanam padi di saᴡah, dan ᴡaktunya memberi pupuk untuk tanaman yang lama tumbuh, seperti durian, rambutan, nangka, dll.[9] • Kapat (keempat) Mangsa keempat dimulai dari tanggal 17 September sampai 11 Oktober dengan rentang ᴡaktu 25 hari. Lambangna gumading resi (bahagia). Tandanya adalah angin memutar datang dari barat sampai turunnya hujan, ᴡaktunya hewan berkaki empat untuk kaᴡin, pohon randu mulai berbuah, petani sibuk panen palaᴡija dan mengolah saᴡah.[9] • Kelima Mangsa kelima dimulai dari tanggal 12 Oktober sampai 7 November dengan rentang ᴡaktu durasi 27 hari. Lambangnya adalah pancuran sumawur ing jagat (musim hujan). Tangarana angin kencang datang dari arah barat atau utara bersamaan dengan musim hujan, pagi dan siang hari biasanya turun hujan, banyak pohon yang runtuh, pohon asem mulai berdaun, petani mulai menanam padi. Bintang ᴡuluku muncul pada sore hari.[9] • Kanem (keenam) Mangsa keenam dimulai dari tanggal 8 November sampai dengan 20 Desember dengan rentang ᴡaktu 43 hari. Lambangnya adalah nikmat roso (senang). Tandanya adalah angin berhembus kencang dari arah barat, musim panen buah-buahan, hujan turun hampir setiap hari, saᴡah sudah harus dirambet (dibersihkan dari gulma), bintang ᴡuluku muncul pada sore hari dan hewan kecil di saᴡah mulai bertelur.[9] • Kapitu (ketujuh) Mangsa ketujuh dimulai dari tanggal 21 Desember sampai 1 Februari dengan rentang ᴡaktu 42 hari. Lambangnya adalah guci pecah ing lautan (guci retak di laut). Tandanya sering hujan yang dapat menyebabkan banjir, saᴡah di daerah pegunungan sudah bisa ditanam padi, angin datang dari barat, udara terasa dingin, air di saᴡah terasa panas, bintang ᴡuluku muncul pada sore hari, hewan kecil di saᴡah mulai bertelur dan jagung atau kacang di huma bisa dipanen.[9] • Keᴡolu (delapan) Mangsa kedelapan dimulai dari tanggal 2 Februarui sampai dengan 28 Februari dengan rentang ᴡaktu 27 hari. Lambangnya adalah puspo anjrah (jeroning kayung seungi sakeroning haté). Tandanya angin datang dari arah barat, hujan mulai berkurang, musim ini cocok untuk tanaman yang hidup lama dan padi di huma mulai berkembang.[9] • Kasongo (kesembilan) Mangsa kesembilan dimulai dari tanggal 1 Maret sampai dengan 25 Maret dengan rentang ᴡaktu 25 hari. Lambangnya adalah wedaling wasono (timbul babasaan). Tandanya angin datang dari timur dan kadang-kadang merusak padi yang sedang mekar, hujan mulai berkurang, suara hewan di saᴡah mulai terdengar, padi sudah mulai menguning dan beberapa sudah dipanen.[9] • Kasada (kesepuluh) Mangsa kesepuluh dimulai dari tanggal 26 Maret sampai 17 April dengan rentang ᴡaktu 23 hari. Lambangnya adalah gedong ukeb jeroning kalbu (bangunan hati). Tandanya adalah angin datang dari tenggara, banyak hewan yang berkembang biak, suara burung ramai terdengar, saᴡah yang sudah dipanen dan di sekitarnya sudah ada saᴡah yang kembali diolah atau ditanam padi kembali.[9] • Desta (kesebelas) Mangsa kesebelas dimulai dari tanggal 18 April hingga 10 Mei dengan rentang ᴡaktu 23 hari. Lambangnya adalah pamungkas sinorowedi (patani sibuk panen). Tandanya angin datang dari tenggara, udara dan tanah terasa panas, hama kungkang mulai menghancurkan tanaman di huma atau sawah, daun berguguran, menanam palaᴡija yang umurnya pendek, saᴡah atau huma sudah diolah kembali dan dipanen.[9] • Sada (kaduawelas) Mangsa keduabelas dimulai dari tanggal 11 Mei sampai 21 Juni dengan rentang ᴡaktu 41 hari. Lambangnya adalah tirta syaksing saseno (air meninggalkan tempatnya). Tangarana angin datang dari timur, siang hari terasa panas, gerah, hama padi sangat banyak, dan ᴡaktunya menanam palaᴡija.[9] Menentukan hari naas, keselamatan, dan rizki[sunting | sunting sumber] Tanggal yang dinyatakan sebagai ᴡaktu naas, yaitu sebagai berikut. 1. Muharam jatuh pada tanggal 3, 12, dan 20 2. Sapar jatuh pada tanggal l, 10, dan 20 3. Rabiulawal jatuh pada tanggal 7, ll, dan 15 4. Rabiulakhir jatuh pada tanggal 3, 10, dan 20 5. Jumadilawal jatuh pada tanggal 10, ll, dan 6 6. Jumadilakhir jatuh pada tanggal 3, 10, dan l4 7. Rajab jatuh pada tanggal 3, 7, dan 10 8. Rewah jatuh pada tanggal 1, 11, dan 20 9. Puasa jatuh pada tanggal 9, 20, dan 29 10. Sawal jatuh pada tanggal 2, l, dan 20 11. Dulkaidah jatuh pada tanggal 3, 12, dan 20 12. Rayagung jatuh pada tanggal 2, 6, dan 20 Selain perhitungan tentang pernaasan ada juga tentang pantangan, keselamatan, dan rizki yang terdapat dalam setiap bulan selama satu tahun. Perhitungan ini erat kaitannya dengan kepercayaan tentang adanya kala yang menempati setiap arah mata angin dan selalu bergeser setiap hari. Masyarakat Sunda percaya bila akan bepergian harus nuturkeun kala, yaitu mengikuti kala, misalnya untuk bulan Syawal, Dulkaidah, dan Rayagung disebutkan bahwa hari pantangannya, adalah pada hari Jum’at, keselamatannya pada hari Senin dan Selasa, rizkinya ada di sebelah timur laut karena itu bila ingin mendapatkan rizki harus pergi mengikuti arah ini. Dan jangan mapag kala, yaitu berhadapan dengan kala, karena bila hal ini dilanggar akan mengakibatkan tertimpa oleh hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya diketahui bahwa rizki untuk bulan Syawal, Dulkaidah, dan Rayagung tersebut adalah arah timur laut. maka jangan pergi ke arah yang berlawanan dengan tempat beradanya rizki tersebut. yaitu arah barat laut. Dan yang paling baik harus pergi pada hari Senin atau Selasa, atau dapat juga pergi pada hari lainnya, teapi jangan pada hari Jum'at karena merupakan hari pantangannya, yaitu hari yang bertepatan dengan adanya kala. Bila pergi pada hari pantangannya maka akan mendapatkan sial ataupun hal lainnya yang dapat merugikan diri sendiri.[10] Adapun tentang perhitungan hari pantangan dan keselamatan, serta rizki menurut kala ini dikelompokkan ke dalam 4 kelompok bulan-bulan yang masing-masing kelompok mempunyai perhitungan yang sama. Keempat kelompok itu, adalah sebagai berikut. 1. Muharam, Sapar, dan Rabiul awal pantangannya hari Sabtu dan Minggu, untuk keselamatannya ada pada hari Rabu dan Kamis, dan rizkinya berada di arah tenggara. 2. Rabiul ahir, Jumadil awal, dan Jumadil ahir pantangannya hari Senin dan Selasa, keselamatannya ada pada harj Jum’at, sedangkan rizkinya berada di arah barat laut. 3. Rajab, Rewah dan Puasa pantangannya terdapat pada hari Rabu dan Kamis, keselamatannya ada pada hari Sabtu dan Minggu, serta untuk rizkinya berada di arah barat daya. 4. Sawal, Dulkaidah, dan Rayagung pantangannya terdapat pada hari Jum’at dan keselamatannya adalah hari Senin, serta rizkinya berada di arah timur laut. Dari keempat kelompok bulan itu, maka tempat beradanya rizki pun berpindah-pindah, sesuai dengan perputaran kala. Dimulai dari arah tenggara menuju ke arah barat laut, barat daya, dan timur laut. Dan akhirnya akan kembali lagi ke arah tenggara. Rotasi atau perputaran rizki, tanggal pernaasan, hari pantangan dan hari keselamatan sesuai dengan perputaran bumi mengelilingi matahari.[11] Hari kelahiran Bayi dan Nasib[sunting | sunting sumber] Setiap bayi yang lahir dipercayai mempunyai watak serta nasib masing-masing sesuasi dengan nama hari ketika dia dilahirkan. Tak diketahui mengapa setiap hari mempunyai nabi yang berbeda-beda. Bayi yang lahir pada hari Sabtu jatuh pada Nabi Adam, Minggu jatuh pada Nabi Musa, Senin jatuh pada Nabi Ibrahim, Selasa jatuh pada Nabi Musa, Senin jatuh pada nabi Nuh. Kamis jatuh pada Siti Fatimah. Umuk hari Kamis ini mempunyai pengecualian, yaitu disebutkan bahwa nabinya bemama Siti Fatimah, sedangkan dalam ajaran Islam tidak dikenal nabi wanita. Dalam ramalan ini pengaruh Islam yang sangat dominan. Hal ini terlihat dalam penentuan watak seorang bayi berdasarkan nama salah seorang Nabi yang telah disebutkan tadi. Pembacaan doa-doa setiap hari kelahiran berbeda-beda.[12] • Hari Minggu, doanya ya hayu ya kayumu, artinya yang maha hidup dan yang maha berdiri, dibaca sebanyak 500 x. • Hari Senin, doanya ya rahmanu ya rahimu artinya yang maha pemurah lagi maha penyayang, dibaca sebanyak 400 x. • Hari Selasa, doanya ya malikul qudus, artinya yang merajai dan yang maha suci, dibaca sebanyak 300 x. • Hari Rabu, doanya ya basiru ya mutaha, artinya yang maha melihat dan dibaca sebanyak 700 x. • Hari Kamis, doanya ya alliyu ya adimu, artinya yang maha tinggi dan yang maha agung, dibaca 800 x. • Hari Jum’at, doanya ya kapi ya mugaeni. artinya yang maha memberi kekayaan dibaca sebanyak 600 x. • Hari Sabtu, doanya ya pattahu ya rajaku, artinya pembuka pintu rahmat dan pemberi rizki, dibaca 900 x.[12] Banyaknya pembacaan doa-doa tersebut disesuaikan dengan naktu hari lahir dikalikan 100. Dan doa ini harus dibacakan sambil menghadap ke salah satu arah mata angin yang sesuai dengan tempat beradanya naga. Setiap hari kelahiran mempunyai arah mata angin tempat beradanya naga yang berbeda-beda, yaitu Minggu menghadap ke utara, Sening menghadap ke timur, Selasa menghadap ke tenggaIa, Rabu menghadap ke barat laut, Kamis menghadap ke barat, Jum’at menghadap ke barat daya, Sabtu menghadap ke barat. Jumlah bacaan doa dengan macam-macam doa itu ada hubungannya dengan khasiat dari makna bacaan doa tersebut. Harapannya mudah-mudahan tercapai sifat-sifat Tuhan yang terdapat dalam Asmaul Husna. [13] Untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, maka dalam menentukan arah menghadapnya rumah (kelak bila dia membangun rumah) harus sesuai dengan patokan yang telah ditentukan, yaitu bagi bayi yang lahir hari Sabtu menghadap ke arah utara, Minggu ke arah timur, Selasa ke arah utara, Kamis ke arah timur. Begitupun hal-hal yang lainnya yang berkaitan dengan benda-benda dan binatangnya. Selain itu diramalkan bahwa setiap hari kelahiran mempunyai suatu penyakit yang dapat disembuhkan dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan tertentu. • Hari Sabtu penyakitnya pada perut, obatnya dengan bawang putih, • Hari Minggu penyakitnya adalah sakit badan, obatnya minyak wangi dan godong lombok ditumbuk dikompreskan pada ubun-ubun • Hari Senin penyakitnya panas dingin obatnya kayu manis merah, asam jawa, garam 3 wuku diaduk kemudian dibalurkan ke seluruh tubuh. • Hari Selasa penyakitnya terdapat pada pusar, obatnya bawang putih ditumbuk, dibalurkan pada kepalanya. • Hari Rabu penyakitnya terdapat pada perut diobati dengan minyak kelapa hijau • Hari Kamis penyakjtnya adalah sakitt kepala dan obatnya bawang putih dimakan atau ditumbuk dengan minyak wangi untuk kemudian dibalurkan ke seluruh tubuh.[13] Ramalah tentang barang yang hilang[sunting | sunting sumber] Untuk meramal barang yang hilang dapat dihitung dari berbagai macam hitungan, tergantung dengan niat orang yang kehilangan barang tersebut. Misalnya siapa orang yang mengambilnya, dibawa ke arah mana barang yang diambilnya. Apakah barang yang hilang itu dapat ditemukan kembali, dan lain-lain. Perhitungannya diambil berdasarkan pertanggalan tahun hijriah, hari pasaran dan waktu kehilangan barang tersebut. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan diuraikan mengenai pedoman perhitungannya. [14] • Untuk mengetahui apakah barang yang hilang itu dapat ditemukan kembali atau tidak, perhitungannya menggunakan pembagian angka 4, yaitu tanggal waktu kehilangan dibagi dengan angka 4. Sisa dan hasil pembagiannya merupakan angka penentu perhitungan. Perhitungan dengan membagi angka 4 disebut hitungan panca kaopat. Adapun pedoman perhitungannya adalah sebagai berikut. 1. Pengucap, lama-kelamaan akan mendapat kabar. 2. Panyambung, kadang-kadang suka hilang. 3. Paninggal, akhirnya akan ditemukan kembali. 4. Pangrungu, lama-kelamaan akan mendapat kabar.[14] • Ada pula perhitungan lain untuk mencari kehilangan orang, binatang, atau barang. Perhitungan dan ramalannya hampir sama, hanya istilahnya yang berbeda. Contohnya untuk mencari kehilangan seseorang atau binatang, menggunakan istilah kalang, kalong. kaling, mati. Jika sampai jatuh pada perhitungan mati, orang yang hilang tersebut bernasib sial akan ditemukan dalam keadaan celaka atau mungkin dalam keadaan tewas. Selain dengan menggunakan perhitungan panca kaopat, untuk mengetahui ciri-ciri orang yang mengambil barang dapat pula dilihat dari hari pasaran ketika barang itu hilang. 1. Manis berarti orang yang mengambilnya mirip trenggiling, orangnya pendiam dan necis. 2. Pahing berarti yang mengambilnya mirip marmut, orangnya berbadan bidang. 3. Pon berarti orang yang mengambilnya mirip kura-kura, orangnya pendek dan gemuk. 4. Wage berarti orang yang mengambilnya mirip monyet, orangnya kecil dan pintar. 5. Kaliwon berarti orang yang mengambilnya mirip burung kutilang, orang yang mengambilnya teman kita sendiri.[15]
Palintangan Sunda tina Wikipedia bahasa indonesia, énsiklopédia gratis Loncat ka navigasi Luncat ka milarian Palintangan Sundan mangrupikeun istilah anu asalna tina lintang kawi anu hartosna bentang. Sacara harfiah, palintangan hartosna astrologi atanapi élmu palak. [1] Palintangan kaasup kana katégori élmu tradisional Sunda pikeun nangtoskeun dinten anu saé sareng arah mana anu bakal dicandak pikeun ngahontal hiji tujuan. Palintangan di daérah Sunda ngagaduhan nami anu béda pikeun sababaraha daérah. Di daérah Ciwidey, Kabupatén Bandung disebatna tunduk, di daérah Baduy Propinsi Banten disebatna kolejer, sareng di daérah Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya disebatna tunuk. [2] Masarakat Sunda ti saprak jaman baheula terang dunya astrologi (palintangan), sapertos ayana mangsa (aturan musiman) pikeun ngitung itungan waktos salaku padoman tani. Patalina antara palintangan sareng tradisi agraris Sunda ogé nyababkeun nangtoskeun musim dina sataun. Palintangan anu hirup dina kosmologi budaya Sunda nunjukkeun yén manusa kenal pisan kana kaayaan lingkungan alam, kalebet astronomi. Konsép kalahiran, hirup sareng maot, anu ogé kaalaman ku sadaya benda langit, parantos nyusup kana alam pikiran manusa sareng jiwa batinna.Kalebet masarakat Sunda anu ngajantenkeun fenomena Palintangan salaku inspirasi sareng panduan dina ngalaksanakeun kahirupan sareng milarian ayana salaku mahluk hirup anu caket hubunganana sareng lingkungan alam. Hikmah budaya Sunda dina niténan sareng niténan jagat raya sapertos medar Matahari, Bulan, diajar ngeunaan rasi sareng tekad lembaga mangsa parantos masihan hartos anu ngawarnaan kamekaran astronomi. Daptar eusi • 1Sistem • 2Waktos • 3 kali • 4Pranata of Prey • 5 Nangtukeun dinten anu gawat, kasalametan sareng rejeki anu saé • 6 dinten kalahiran orok sareng nasib • 7 Bagéa ngeunaan barang leungit • 8 catetan handap Sistem [édit | sumber éditan] Sistem Palintangan gumantung kana pola ngitung dinten, pasar, bulan, taun, sareng nilai-nilai sanés anu disebat waktos. Hasil tina Palintangan bakal ngahasilkeun poe alus (dinten saé) atanapi poe goréng (dinten teu tuah). Rujukan pikeun ngitung dinten (Minggu, Senen, Salasa, Rebo, Kemis, Jumaah, Sabtu) sareng itungan pasar (Kaliwon, Manis, Pahing, Pon, Wage) ngagaduhan nilai pikeun tiap-tiap penentuan dinten sareng pasar. [4] Salaku tambahan, panghalang ogé tiasa dianggo salaku acuan pikeun nangtoskeun gerak matahari.Beurang, gerak panonpoé angkat ka wétan sareng kulon, sareng gerakan bulan nalika wengi mangrupikeun pitunjuk pikeun manusa pikeun nangtoskeun dinten dina itungan bulan. Salajengna, béntang Crux (sinar), Big Dipper, sareng Scorpio tiasa dianggo salaku rujukan ka arah kidul, tenggara, sareng kalér. Rasi Orion (luku, waluku, wuluku) digunakeun dina nangtoskeun usum atanapi itungan kalénder pikeun kagiatan tani atanapi melak taneman. Dumasar kana awak langit anu parantos disebatkeun, rasi obyék obyéksi penting pisan hubunganana sareng kagiatan tatanén. [5] Naktu [édit | sumber éditan] Waktos mangrupikeun itungan repok anu dicandak tina asal nami naskah kalayan nomer anu saatos duaan ditambihan sasarengan, bakal dipikaterang naha itungan repok saé atanapi henteu. [6] Naktu asalna tina basa Arab nuqtah anu hartosna itungan repok dumasar kana angka. Kumaha mendakan waktos anu saé pikeun ngalaksanakeun tujuan sapertos kawin sareng murangkalih, sunatan, perjalanan sareng sajabana. Biasana ku ngitung dumasar kana nami anu bersangkutan, upami éta ditulis dina naskah Cacarakan, éta bakal ditambih ku nilaina dinten anu parantos aya formula.Ti dinya bakal dipikaterang iraha waktuna anu pas pikeun ngalaksanakeun tujuan ieu. [7] Itungan waktos repok tiasa ditangtoskeun nganggo rumus ieu. [8] Senén Salasa Rebo Kemis Jumaah Saptu Minggu Nomer 4 3 7 8 6 9 5 Pasar Keliwon Manis Pahing Pon Wage Angka 8 5 9 7 4 Dumasar kana tabél, jumlah dinten sareng nomer pasar kedah ageung sareng henteu ngalangkungan waktos atanapi watesan bulan anu parantos ditangtoskeun. [8] Kala [édit | sumber éditan] Numutkeun kapercayaan Sunda, sirkulasi bulan, matahari, sareng bintang tiasa nangtoskeun kala, nyaéta hal anu tiasa nyababkeun bahaya atanapi musibah. Kapercayaan kana itungan ogé dimaksad supados henteu pipilueun (wilujeng sumping) dina tindakan naon waé anu tiasa tungtungna ngarugikeun diri sorangan atanapi sakelompok jalma. Kala numutkeun kapercayaan masarakat Sunda tiasa nguasaan tempat atanapi arah angin anu tangtu sareng unggal dinten dina waktos éta bakal ngagentos tempat. Numutkeun kana itungan, tempat nalika ayana sapertos kieu. • Nalika lebet ka bulan Muharram, Safar, sareng Rabiul Awal nalika aranjeunna aya di wétan lempeng, éta hartosna yén dinten anu dilarang nyaéta Saptu sareng Minggu. • Bulan-bulan kasép Rabiul, Jumadi Awal, sareng almarhum Jumadi, nalika di belah kulon lempeng sareng kulon condong, hartosna dinten anu dilarang nyaéta Senén sareng Salasa.• Bulan Rajab, Rewah, Puasa, nalika aranjeunna aya di belah kulon sareng wétan, éta hartosna dinten anu dilarang nyaéta Rebo sareng Kemis. • Bulan-bulan Shawwal, Dulqaidah, Rayagung, nalika aranjeunna aya di belah kidul-kulon, éta hartosna dinten-dinten anu dilarang nyaéta Jumaah. [2] Ayana dina waktos éta nungtut atanapi masihan pangaruh sahingga manusa dina sagala kalakuanana saluyu sareng itungan jaman. Sangkan méré hasil maksimal pikeun ngahontal kabahagiaan batin sareng luar salian ti ngahontal kasaimbangan tujuan anu dipikahoyong. Maka, masarakat Sunda bakal terang iraha waktuna anu pas pikeun ngokolakeun sawah atanapi melak paré. ngawangun bumi, nangtoskeun dinten kawinan, masihan nami ka murangkalih, milarian barang-barang anu leungit, sareng nangtoskeun karakter manusa boh dina hal namina sareng tina tipologi manusa éta sorangan. Salaku tambahan, éta ogé terang mana arah anu mawa tuah sareng bencana numutkeun itungan waktos kalahiran, nami jalma sareng tempat padumukan. Kitu ogé ngeunaan pangorbanan sareng doa pikeun nolak bala sareng doa kasalametan. [2] Upamana urang badé panén dinten Senén bulan Dulqaidah. Janten dumasar kana itungan Senén pahing jumlahna 4 + 9 = 13. Sareng dina bulan Dulqaidah nalika di belah kidul-kulon dinten anu dilarang nyaéta dinten Jumaah. Hartina dinten éta diidinkeun pikeun panén sangu kusabab jumlah kali ageung sareng henteu kalebet larangan bulan atanapi waktos.Tapi upami anjeun milih dinten Jumaah pahing, anu jumlahna dugi ka 6 + 9 = 15, éta henteu kénging upami anjeun masih lebet kana bulan Dulqaidah, sanaos numutkeun waktos Jumaah éta pahing ngagaduhan angka anu paling ageung saminggu. Pranata Mangsa [édit] sumber éditan] Mangsa Pranata mangrupikeun istilah pikeun tungtunan kalénder tradisional pikeun kagiatan tani atanapi tani. Pitunjuk ieu dumasarkeun kana paniténan alam, hususna ngeunaan parobihan iklim di bumi sareng gerak awak langit. Dina sataun dibagi kana 4 mangsa utama anu dibagi deui jadi 12 mangsa. jumlah poé dina mangsa mangsa beda-beda, mimitian ti 24 dugi 43 dinten. Jumlah dinten dina dua belas mangsa mangsa sanes hasil tina pembagian saderhana, tapi caket hubunganana sareng parobihan musim. unggal mangsa nunjukkeun pola alami pikeun mangsa éta. Samentawis éta, anu dimaksad ku opat mangsa utama nyaéta usum katilu (garing), usum mooring (transisi, transisi), sareng usum hujan (usum hujan). Patani ngagunakeun struktur mangsa pikeun ngamimitian tani saluyu sareng kaayaan atanapi kamekaran [[cuaca]]. Patani nyobian tetep nuturkeun wirahma musim ayeuna sahingga bisnis tani na suksés.Unggal musim ngagaduhan karakter anu khusus salaku réaksi kana paripolah mahluk hirup (sasatoan sareng pepelakan) kana dinamika musim atanapi lintasan awak langit, nyaéta bulan sareng matahari, béntang sareng rasi bintang. Ieu bakal ngahasilkeun sekuen musim dina kalénder Jawa anu ogé dianggo ku urang Sunda. [5] • Kasa (heula) Mangsa mimiti mimitian ti 21 Juni dugi ka 31 Juli kalayan bentang 41 dinten. Dilambangkeun sapertos kécap (daun) sareng murca saka ngembanan (kai). Tanda na angin datang ti beulah wétan, daunna murag tina tangkal, endog jangkrik mimiti menetas, beurang panas pisan, peuting tiris pisan, taneuhna panas, béntang ᴡuluku katingali ti wétan, sareng kalangkangna belah kidul. Usum ieu, kalebet usum halodo, henteu cocog pikeun tani. [9] Karo (kadua) Mangsa anu kadua mimitian ti tanggal 1 Agustus dugi ka 23 Agustus kalayan rentang waktos 23 dinten. Éta dilambangkan ku beutule rengko (lahan beulah). Tanda nyaéta angin anu datang ti belah kidul sareng kalér arah kulon, beurang panas pisan, wengi tiris pisan, lahanna beulah sareng garing, sumur sareng walungan garing, giwang mimiti naék, sapertos tangkal karét sareng jeruk, béntang ᴡuluku muncul ti wétan, tangkal pelem mimiti kembang.Dina usum ieu, patani biasana melak palaᴡija anu umurna pondok. [9] • Katiga (katilu) Mangsa katilu dimimitian ti 24 Agustus dugi ka 16 Séptémber kalayan bentang 24 dinten. Tanda na nyaéta akarna mimiti kaluar, angin ngagelebug ti beulah kalér, hawa tiis tapi karasa seger, waktuna panén palaᴡija, patani mimiti melak paré di saᴡah, sareng ᴡ waktuna ngabuahan pepelakan lami, sapertos durian, rambutan, nangka, jst. [9 ] • Kapat (kaopat) Mangsa kaopat dimimitian ti 17 Séptémber dugi ka 11 Oktober kalayan bentang waktos 25 dinten. Lambangna gumading rishi (bagja). Tanda nyaéta angin puteran datang ti beulah kulon dugi ka hujan, parantos waktos kanggo sato opat suku kaᴡin, tangkal randu ngahasilkeun buah, patani sibuk panén palaᴡija sareng ngolah saolahah. • Kalima Mangsa kalima dimimitian ti 12 Oktober dugi ka 7 Nopémber kalayan lilana 27 dinten. Simbolna nyaéta pancuran sumawur ing jagat (usum hujan). Anginna kenceng tangarana datang ti beulah kulon atanapi kalér dibarengan usum hujan, biasana hujan isuk-isuk sareng beurang, seueur tangkal runtuh, tangkal jeruk mimiti tumuh, patani mimiti melak paré.Bentang ᴡuluku nembongan magrib. [9] Kanem (kagenep) Mangsa kagenep dimimitian ti 8 Nopémber dugi ka 20 Désémber kalayan bentang waktos 43 dinten. Lambangna nyaéta nikmat roso (bagja). Tanda na nyaéta angin ngahiliwir badag ti kulon, usum panén buah, hujan ampir unggal dinten, saᴡah kedah dicekel (dibersihkeun tina gulma), béntang ᴡuluku némbongan siang sareng sato leutik di saᴡah mimiti ngendogkeun endogna. [9] Kapitu (katujuh) Mangsa katujuh dimimitian ti 21 Désémber dugi ka 1 Pébruari kalayan rentang waktos 42 dinten. Simbolna nyaéta kendi anu meupeus dina sagara (kendi retak di laut). Tanda-tanda hujan sering anu tiasa nyababkeun banjir, saᴡah di daérah pagunungan tiasa dipelak ku sangu, anginna datang ti kulon, hawa karasa tiis, cai dina saᴡah karasa panas, béntang ᴡuluku némbongan soré, sato leutik di saah mimiti endog sareng jagong atanapi kacang di huma tiasa dipanén. [9] Keᴡolu (dalapan) Mangsa kadalapan dimimitian ti 2 Pébruari dugi 28 Pébruari kalayan bentang 27 dinten. Lambangna nyaéta puspo anjrah (jeroning kayung kalayan sakeroning haté).Tanda angin datang ti beulah kulon, hujan mimiti turun, usum ieu cocog pikeun pepelakan umur panjang sareng nasi di huma parantos mimiti ngirangan. [9] Kasongo (kasalapan) Mangsa kasalapan mimitian ti tanggal 1 Maret dugi ka 25 Maret kalayan bentang waktos 25 dinten. Lambangna nyaéta wedaling wasono (timbul babasa). Tanda angin datang ti wétan jeung sakapeung ngaruksak béas anu mekar, hujan mimiti turun, sora sato dina saᴡah mimiti kadéngé, sangu mimiti konéng sareng aya anu parantos dipanén. [9] Kasada (kasapuluh) Mangsa kasapuluh dimimitian ti 26 Maret dugi ka 17 April kalayan bentang waktos 23 dinten. Lambangna nyaéta gedong uké jeroning kalbu (ngawangun haté). Tanda na nyaéta angin asalna ti beulah kidul-wétan, seueur sato anu ngabibita, sora manuk kadéngé, saᴡah parantos dipanén sareng di sakurilingna aya saᴡah anu parantos diolah deui atanapi dipelak ku sangu deui. [9] • Desta (kasawelas) Mangsa anu kasebelas dimimitian ti tanggal 18 April dugi ka 10 Méi kalayan rentang waktos 23 dinten. Lambangna nyaéta pamungkas sinorowedi (patani sibuk panén).Tanda angin datang ti belah kidul-wétan, hawa jeung taneuhna panas, hama leueur mimiti ngancurkeun pepelakan di huma atanapi sawah, daun murag, melak palaᴡija anu umurna pondok, saᴡah atanapi huma parantos diolah deui sareng dipanén. [9] • Sada (kaduawelas) Mangsa anu ka dua belas dimimitian ti 11 Méi dugi ka 21 Juni kalayan bentang waktos 41 dinten. Lambangna nyaéta tirta syaksing saseno (cai ninggalkeun tempatna). Anginna sumping ti beulah wétan, dinten panas, panas, seueur hama sangu, sareng waktuna melak palaᴡija. [9] Nangtoskeun dinten-dinten anu kasasar, kasalametan, sareng rejeki [édit | sumber éditan] Tanggal anu dinyatakeun salaku waktos anu nasib sapertos kieu. 1. Muharram ragrag tanggal 3, 12, sareng 20 2. Sapar gugur tanggal 1, 10, sareng 20 3. Rabiulawal tumiba tanggal 7, 11, sareng 15 4. Rabi Terakhir ragrag tanggal 3, 10, sareng 20 5. Jumaah awal tumiba tanggal 10, 11, sareng 6 6. Jumaah terakhir tumiba tanggal 3, 10, sareng 14 7. Rajab ragrag tanggal 3, 7 sareng 10 8. Rewah tumiba tanggal 1, 11 sareng 20 9. Puasa turun tanggal 9, 20, sareng 29 10. Sawal gugur tanggal 2, 1, sareng 20 11. Dulkaidah ragrag tanggal 3, 12 sareng 20 12.Rayagung ragrag tanggal 2, 6, sareng 20 Salian ngitung rasa, aya ogé larangan, kaamanan, sareng rezeki anu dikandung dina unggal bulan salami sataun. Itungan ieu raket patalina sareng kapercayaan yén aya waktos anu nempatan unggal arah kardinal sareng teras ngalih unggal dinten. Masarakat Sunda yakin yén nalika badé ngumbara, aranjeunna kedah nuturkeun waktosna, contona pikeun sasih Shawwal, Dulkaidah, sareng Rayagung, nyatakeun yén dinten pantang nyaéta dinten Jumaah, kaamananna Senén sareng Salasa, kabeneran na aya di belah wétan-kalér kusabab éta upami anjeun hoyong kéngingkeun rizki anjeun kedah angkat ka arah ieu. Sareng ulah mapag waktos, éta hubungan sareng kala, sabab upami ieu dilanggar, hal-hal anu henteu dipikahoyong bakal ditimpa. Salaku conto, dipikanyaho yén rizki pikeun sasih Shawwal, Dulkaidah, sareng Rayagung aya dina arah belah wétan-kalér. maka entong buka arah anu berlawanan ka tempat rizki. nyaéta kalér-kulon. Sareng anu pangsaéna nyaéta angkat dinten Senén atanapi Salasa, atanapi anjeun ogé tiasa angkat dina dinten anu sanés, tapi henteu dina dinten Jumaah sabab éta dinten anu henteu mampuh, nyaéta dinten anu pas sareng kala.Upami anjeun dina dinten teu pantang, anjeun bakal nasib malang atanapi hal-hal sanés anu tiasa ngarugikeun diri. [10] Sedengkeun pikeun itungan dinten tabu sareng kaamanan, ogé rejeki numutkeun waktos ieu dikelompokkeun kana 4 kelompok bulan, unggal kelompok gaduh itungan anu sami. Opat kelompok sapertos kieu. 1. Muharam, Sapar, sareng Rabiul mimiti dinten Saptu sareng Minggu, pikeun kaamanan aranjeunna aya dinten Rebo sareng Kemis, sareng rizkinya di beulah kidul. 2. Rabiul ahir, Jumadil Awal, sareng Jumadil akhir dilarang ti Senén sareng Salasa, kaamanan salami dina dinten Jumaah, sedengkeun rizkinya aya di belah kulon kalér. 3. Rajab, Rewah sareng Puasa dilarang dinten Rebo sareng Kemis, kaamanan salamina dinten Saptu sareng Minggu, sareng kanggo rizkinya aya di belah kidul-kulon. 4. Sawal, Dulkaidah, sareng Rayagung dilarang dina dinten Jumaah sareng kaamananna dinten Senén, sareng rizkin na aya di belah wétan-kalér. Tina opat kelompok bulan, tempat ayana rizki ogé ngalih, numutkeun rotasi jaman. Dimimitian ti belah kidul wétan ka arah belah kulon kalér, kidul kulon, sareng belah wétan-kalér. Sareng tungtungna balik deui ka belah kidul wétan deui.Rotasi rizki, tanggal rasa, dinten tabu sareng dinten kasalametan saluyu sareng rotasi bumi di handapeun matahari. [11] Ulang taun sareng nasib orok [édit] sumber éditan] Unggal orok anu dilahirkeun dipercaya ngagaduhan karakter sareng nasib masing-masing numutkeun nami dinten nalika anjeunna lahir. Henteu dipikaterang kunaon unggal dinten ngagaduhan nabi anu béda. Orok anu dilahirkeun dinten Saptu tumiba ka Nabi Adam, dinten Minggu tumiba ka Nabi Musa, Senén tumiba ka Nabi Ibrahim, Salasa murag ka Nabi Musa, Senén tumiba ka Nabi Nuh. Kemis ragrag ka Siti Fatimah. Umuk Kemis ieu ngagaduhan pengecualian, nyaéta nyatakeun yén nabina namina Siti Fatimah, sedengkeun dina ajaran Islam teu aya nabi awéwé anu dipikaterang. Dina ramalan ieu pangaruh Islam dominan pisan. Ieu tiasa ditingali dina nangtoskeun karakter orok dumasar kana nami salah saurang nabi anu disebatkeun tadi. Bacaan doa pikeun unggal dinten kalahiran beda-beda. [12] • Dinten Minggu, do'a téh enya hayu ya kayu, anu hartosna anu hirup sareng anu paling jumeneng, baca 500 kali. • Dinten Senen, do'a ya rahmanu ya rahimu hartosna paling murah, pangasihna, dibaca dugi ka 400 x. • Dinten Salasa, solat ya malikul qudus, anu hartosna anu ngatur sareng anu paling suci, dibaca 300 kali. • Dinten Rebo, sholat éta basiru ya mutaha, anu hartosna aya 700 jalma anu ningali sareng maca.• Dina dinten Kemis, doakeun ya alliyu ya adimu, anu hartosna paling luhur sareng paling agung, baca 800 x. • Jumaah, punten ngadoakeun, ok Mugaeni. nyaéta anu masihan kabeungharan dibaca dugi ka 600 x. • Dinten Saptu, do'a éta ya pattahu ya raja kuring, anu hartosna muka panto rohmat sareng anu masihan rizki, baca 900 x. [12] Jumlah bacaan doa diluyukeun sareng tanggal kalahiran dikali 100. Sareng doa ieu kedah dibaca bari nyanghareupan salah sahiji arah kardinal saluyu sareng lokasi naga. Unggal dinten kalahiran ngagaduhan arah angin anu béda dimana ayana naga, nyaéta Minggu nyanghareup ka kalér, Sening nyanghareup ka wétan, Salasa nyanghareup ka kidul, Rebo nyanghareup ka kulon, Kemis nyanghareup ka kulon, Jumaah nyanghareup ka kidul, Saptu nyanghareup ka kulon. Jumlah bacaan doa kalayan rupa-rupa doa aya hubunganana sareng hasiatna makna bacaan doa. Harepanana mugia sipat-sipat Gusti anu aya dina Asmaul Husna bakal kahontal. [13] Pikeun ngahindaran hal-hal anu teu dipikahayang, dina nangtoskeun arah nyanghareup ka bumi (engké nalika anjeunna ngawangun bumi), éta kedah saluyu sareng standar anu parantos ditangtoskeun, nyaéta pikeun orok anu lahir dinten Saptu nyanghareup ka kalér, Minggu ka wétan, Salasa kalér, Kemis wétan.Kitu ogé hal-hal séjén anu aya hubunganana sareng objék sareng sato. Salaku tambahan, diprediksi yén unggal dinten kalahiran ngagaduhan panyakit anu tiasa diubaran ku ngagunakeun pepelakan anu tangtu. • Sabtu panyakit lambung, ubar ku bawang bodas, • Dinten Minggu panyakit nyaéta nyeri awak, ubarna nyaéta minyak seungit sareng ditumbuk godong lombok sareng dikomprés dina makuta. • Senén, panyakitna tiis sareng ubarna nyaéta kayu manis beureum, asam jawa, 3 uyah wuku, diaduk teras dioleskeun kana sakujur awak. • Dinten Salasa panyakit aya dina bujal, ubarna ditumbuk bawang bodas sareng diusap dina sirah. • Dinten Rebo, panyakit lambung na diubaran ku minyak kalapa héjo • Dina dinten Kemis panyakit ieu nyeri sirah sareng ubarna nyaéta tuang bawang bodas atanapi pon ku minyak wangi teras sapuan kana sakujur awak. [13] Ramadhan ngeunaan barang leungit [édit | sumber éditan] Pikeun ngaramal barang anu leungit, éta tiasa diitung tina sababaraha jinis itungan, gumantung kana niat jalma anu kaleungitan barang éta. Salaku conto, saha jalma anu nyandak éta, arah mana anu dituju. Naha barang-barang anu leungit tiasa dipendakan deui, sareng sajabina. Itunganana dicandak dumasar kana taun kalénder Hijriah, dinten pasar sareng waktos kaleungitan barang.Kanggo langkung jelasna, ieu di handap bakal ngajelaskeun pedoman itungan. [14] • Pikeun milarian terang naha barang anu leungit tiasa dipulut atanapi henteu, itungan ngagunakeun pembagian nomer 4, nyaéta tanggal leungitna dibagi ku nomer 4. Sésana sareng hasil tina babagian mangrupikeun angka anu bakal ditangtoskeun pikeun itungan. Itunganana ku ngabagi nomer 4 disebat lima kaitung kaopat. Pitunjuk itunganana sapertos kieu. 1. Panyatur, laun-laun bakal nampi berita. 2. Sabalikna, sakapeung musna. 3. Panangkat, antukna bakal kapendak deui. 4. Pangrungu, laun-laun anjeun bakal nampi berita. [14] • Aya ogé itungan sanés pikeun kaleungitan jalma, sato atanapi barang. Itungan jeung prediksi ampir sarua, ngan istilahna béda. Upamana, pikeun milarian kaleungitan hiji jalma atanapi sato, nganggo istilah kalang, kalong. kaling, maot. Upami tumiba dina jumlah maot, jalma anu leungit ngagaduhan tuah musibah dipendakan dina kaayaan anu malarat atanapi kamungkinan maot. Salian ti ngagunakeun itungan panca kaopat, pikeun milari ciri-ciri jalma anu nyandak barang éta ogé tiasa ditingali tina dinten pasar nalika barang na ical. 1. Amis hartosna jalma anu nyandak éta ibarat pangolin, jalma éta sepi tur gagah. 2. Pahing hartosna jalma anu nyandak éta ibarat babi guinea, jalma éta ngagaduhan awak anu lega. 3.Pon hartosna jalma anu nyandak éta siga kuya, jalma éta pondok sareng gendut. 4. Upah hartosna jalma anu nyandakna siga monyét, jalma leutik sareng pinter. 5. Kaliwon hartosna jalma anu nyandak éta sapertos finches, jalma anu nyandak éta babaturan urang sorangan. [15]
Semua terjemahan yang dibuat di dalam TerjemahanSunda.com disimpan ke dalam database. Data-data yang telah direkam di dalam database akan diposting di situs web secara terbuka dan anonim. Oleh sebab itu, kami mengingatkan Anda untuk tidak memasukkan informasi dan data pribadi ke dalam system translasi terjemahansunda.com. anda dapat menemukan Konten yang berupa bahasa gaul, kata-kata tidak senonoh, hal-hal berbau seks, dan hal serupa lainnya di dalam system translasi yang disebabkan oleh riwayat translasi dari pengguna lainnya. Dikarenakan hasil terjemahan yang dibuat oleh system translasi terjemahansunda.com bisa jadi tidak sesuai pada beberapa orang dari segala usia dan pandangan Kami menyarankan agar Anda tidak menggunakan situs web kami dalam situasi yang tidak nyaman. Jika pada saat anda melakukan penerjemahan Anda menemukan isi terjemahan Anda termasuk kedalam hak cipta, atau bersifat penghinaan, maupun sesuatu yang bersifat serupa, Anda dapat menghubungi kami di →"Kontak"
Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)